• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Mertau dengki melihatku bahagia

img

Medialiterasi.web.id Dengan nama Allah semoga kalian selalu berbahagia. Pada Edisi Ini mari kita bahas tren novel rumah tangga yang sedang diminati. Informasi Lengkap Tentang novel rumah tangga Mertau dengki melihatku bahagia Ikuti terus penjelasannya hingga dibagian paragraf terakhir.

    Table of Contents


Bab 3

Tidak Mau Kalah

 

Plak!

 

Plak!

 

Dua kali tanganku membalas tamparannya Bu Endang. Tak ada gentar. Dendam dan amarah kadung merasuk ke sanubariku.

 

"Auww! Anak setan kamu, Nisa! Sakit!" Ibu mertuaku berteriak kesakitan. Perempuan paruh baya itu menjerit sambil memegangi pipinya.

 

"Nisa! Hentikan!" Pak Bambang langsung mendekat. Gegas dia merangkul ketat sang istrj.

 

"Apa? Bapak nggak terima? Aku cuma bela diri. Salah?" tanyaku berdentum-dentum.

 

Terserah mau dibilang apa. Mau dibilang kurang ajar? Silakan. Aku tidak peduli!

 

"Raka! Keluar kamu dari kamar! Didik istrimu, Raka!" Bu Endang beringsut dan kini menggedor-gedor kamarku.

 

Ayo, gedor yang kencang! Hancurkan sekalian pintunya. Toh, kalau rusak, itu urusan kalian!

 

"Bu, apalagi, sih?" Mas Raka kulihat langsung membuka pintu.

 

Muka suamiku terlihat capek. Entah apa yang dia capekkan dalam hidup ini. Padahal kerjaannya cuma ngorok, makan, dan ngerokok.

 

Iya. Suamiku itu seorang pengangguran. Dari awal menikah, total sudah sepuluh kali dia bergonta ganti profesi.

 

Titel boleh sarjana. Tapi soal cari duit, Mas Raka kalah telak dari aku yang hanya lulusan SMA.

 

Gelar sarjananya itu tak kunjung membawanya pada kesuksesan. Jelas saja. Wong dia itu pemalas, cepat bosan, dan suka mengeluh.

 

Dulu, suamiku itu pernah bekerja di sebuah perusahaan finance. Tugasnya sebagai tukang tagih. Gaji lumayan, tapi targetnya memang gila-gilaan.

 

Hanya sebulan dia bertahan. Alasannya capek. Masa lulusan S-1 ekonomi cuma kerja sebagai tukang tagih. Okelah, aku memaklumi.

 

Coba lagi melamar di perusahaan ekspedisi. Posisi sudah enak. Langsung jadi supervisor. Eh, nyatanya hanya bertahan tiga bulan dengan alasan selalu lembur dan pulang di atas jam sepuluh malam. Dia tidak kuat, katanya.

 

Sempat setahun nganggur, suamiku lalu bantu-bantu jualan. Dagang cilok di depan rumah, itu pun mukanya selalu masam kalau pas gelar lapak. Karena malu, usaha itu hanya bertahan dua minggu. Mas Raka bilang jualan cilok itu bikin malu keluarga, padahal omset bersih per hari bisa dapat tujuh puluh lima ribu sampaj seratus lima puluh ribu per hari. Ciloknya pun aku yang bikin, dia cuma modal nungguin doang.

 

Sekarang, suamiku hanya diam ongkang kaki di rumah. Tiga bulan lalu dia baru saja kena PHK setelah setahun bekerja sebagai staf marketting di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penjualan alat berat. Aku biarkan dia menganggur sebab katanya dia sedang ingin istirahat dulu setelah setahun full bekerja tanpa pindah.

 

Alasan yang terdengar membagongkan memang. Kalau kupikir lagi, jijik kali dengan alasannya itu. Laki-laki kok bisa capek kerja? Aneh!

 

"Kamu ajarin nih si Nisa! Dia berani nampar Ibu! Dua kali dia namparin muka Ibu!" adu Ibu sambil menunjuk pipinya yang merah.

 

Plak!

 

Tangan Ibu lalu mendarat ke pipi suamiku. Apakah aku sedih melihatnya? Oh, tentu saja tidak! Aku malah tersenyum puas.

 

"Bu, kok, malah aku yang kena?" Mas Raka tak terima.

 

"Gara-gara kamu merengek maksa minta dikawinin ama Nisa, ini akibatnya! Perempuan gila itu udah durhaka sama mertua yang telah mengangkat derajatnya! Ceraikan dia, Raka! Bikin dia jadi janda!" paksa Ibu sambil mencengkeram kerah kaus suamiku.

 

"Bu, kalau dia kucerai, aku makan apa, Bu? Aku nggak mau idup susah! Nisa sekarang duitnya banyak. Aku nggak usah capek kerja, dia yang penuhin kebutuhan. Udahlah, Bu. Aku capek dengerin kalian berantem terus. Ibu mau aku gila?" Mas Raka berteriak. Membuatku refleks bergidik ngeri.

 

Oh, jadi gini toh, pemikiran suamiku. Pantas dia nyaman dengan kenganggurannya itu. Karena dia merasa bahwa semua kebutuhan adalah tanggung jawabku.

 

Bentar ya, Mas. Kupastikan kamu juga bakal mendapat ganjarannya!

 

Bersambung

 

Baca cerita selengkapnya di aplikasi KBM App

 

Judul: Mertua Dengki Melihatku Bahagia

Penulis: Meisya Jasmine

 

Link ada di kolom komentar

Begitulah uraian lengkap mertau dengki melihatku bahagia yang telah saya sampaikan melalui novel rumah tangga Jangan lupa untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat selalu berpikir kreatif dalam bekerja dan perhatikan work-life balance. , Bagikan postingan ini agar lebih banyak yang tahu. jangan lupa baca artikel lainnya di bawah ini.

Special Ads
© Copyright 2024 - media literasi
Added Successfully

Type above and press Enter to search.

Close Ads